Janji Sang Pecundang
Sepertinya janji sudah menjadi hal yang sangat melekat dengan kehidupanku. Di berbagai urusan aku selalu memberikan janji. Janji untuk bertemu, janji akan membantu, janji selalu menemani, hingga janji akan mencintai. Mencintaimu selamanya, kataku pada sang kekasih. Cihhh.
Aku dulu beranggapan, dengan janji aku telah memberikan kejelasan. Setidaknya memberikan rasa nyaman. Meskipun akhirnya aku juga yang melanggar janji-janji yang aku katakan. "Besok ketemu jam berapa?" Tanya kawanku kepadaku. Dengan lantang aku menjawab jam 8 malam. Padahal di jam tersebut aku masih belum tau bisa bertemu atau tidak. Alhasil aku datang melebihi jam 8 malam. Sudah biasa. Sudah biasa untukku?
Sekarang aku menyadari kesalahanku. Kesalahan yang kini ku anggap besar. Aku membiarkan kawan-kawanku menikmati janjiku. Membiarkan mereka terbang dengan angan yang aku berikan. Hingga mereka terlarut dalam harapan yang kujanjikan. Dan pada akhirnya, harapan itu hilang karena ada manusia pecundang dengan tidak menepati janjinya. Begitu jahat. Pikirku itu begitu jahat. Mungkin aku sudah membunuh waktu dari kawan-kawanku. Tidaklah berlebihan bukan?
Janji nyatanya tidak terlampau jauh dengan kebohongan. Jika pada akhirnya kita tidak menepatinya. Janji dapat membunuh rasa bahagia. Janji dapat mengikis rasa percaya. Janji bermakna kosong jika kita sebenarnya tidak mampu melaksanakannya.
Akhirnya aku memperbaiki langkah. Bukankah kawan adalah harta yang paling berharga? Tanpa mereka maka kita terlempar dalam kesunyian. Lalu mengapa aku menyakitinya? Dan bahkan aku menyakitinya tanpa mereka menyadari kejahatan yang aku lakukan. Memilukan. Janji adalah sesuatu yang sakral. Aku harus berhati-hati. Agar hidupku tidak termakan janji yang berujung kebohongan.
Aku dulu beranggapan, dengan janji aku telah memberikan kejelasan. Setidaknya memberikan rasa nyaman. Meskipun akhirnya aku juga yang melanggar janji-janji yang aku katakan. "Besok ketemu jam berapa?" Tanya kawanku kepadaku. Dengan lantang aku menjawab jam 8 malam. Padahal di jam tersebut aku masih belum tau bisa bertemu atau tidak. Alhasil aku datang melebihi jam 8 malam. Sudah biasa. Sudah biasa untukku?
Sekarang aku menyadari kesalahanku. Kesalahan yang kini ku anggap besar. Aku membiarkan kawan-kawanku menikmati janjiku. Membiarkan mereka terbang dengan angan yang aku berikan. Hingga mereka terlarut dalam harapan yang kujanjikan. Dan pada akhirnya, harapan itu hilang karena ada manusia pecundang dengan tidak menepati janjinya. Begitu jahat. Pikirku itu begitu jahat. Mungkin aku sudah membunuh waktu dari kawan-kawanku. Tidaklah berlebihan bukan?
Janji nyatanya tidak terlampau jauh dengan kebohongan. Jika pada akhirnya kita tidak menepatinya. Janji dapat membunuh rasa bahagia. Janji dapat mengikis rasa percaya. Janji bermakna kosong jika kita sebenarnya tidak mampu melaksanakannya.
Akhirnya aku memperbaiki langkah. Bukankah kawan adalah harta yang paling berharga? Tanpa mereka maka kita terlempar dalam kesunyian. Lalu mengapa aku menyakitinya? Dan bahkan aku menyakitinya tanpa mereka menyadari kejahatan yang aku lakukan. Memilukan. Janji adalah sesuatu yang sakral. Aku harus berhati-hati. Agar hidupku tidak termakan janji yang berujung kebohongan.
Komentar
Posting Komentar