Alphabet "Awal Cerita"

November 2018Malam itu sasana terasa sangat tidak hangat. Cengkrama yang biasanya menyatukan, kini hanya basa basi semata. Sebab diantara pasang mata, sudah tau akan membunuh dan membantu siapa. Kami duduk melingkar dengan berkubu-kubu. Tidak semua seperti itu, ada yang menyelinap, dengan maksud membohongi dan beretorika belaka. Sebenarnya mereka tau itu tidak berguna. Tetapi biar tak berguna, setidaknya akan lebih terasa sandiwaranya.Dipimpin sang ketua, dengan sedikit terlamabat kami memulai topik pembicaraan. Menyoal masa depan rumah kita bersama, katanya. Baiklah aku mengikuti saja, toh jika tidak sesuai dengan rencana yang aku ikuti, langsung saja kutikam dan hentikan. Biar saja mereka marah. Saling marah diantara para pemarah bagiku cukup rasional dan tidak memalukan.Masa depan rumah kita. Cih. Bukan itu yang akan aku dapatkan malam ini. Tetapi masa depan lain bersama dia. Dia yang duduk disebelah kawanku, yang kini masih asing bagiku. Tapi itu sekarang, aku yakin besok aku dan dia pasti akan jadi pasangan dua anak manusia yang tak pernah berhenti merajut cerita. Aamiin, ucapku lirih diantara diskusi di waktu itu.Benar saja, malam itu terasa begitu sempurna. Tidak tidak. Hampir sempurna, malam itu aku tau siapa dia. Tapi gagal mengantarnya pulang, karena......... . Ya karena memang belum saatnya.Satu, dua, tiga hari aku tak mengejar dia. Bukan karena aku tak serius, tapi karena tidak berani. Memalukan sekali aku tidak berani mendekatinya. Padahal, malam itu aku sudah menjabatnya. Mungkin karena senyumnya, iya senyumnya mengisyaratkan aku tidak cukup baik untuk dapat menikmati waktu lebih bersamanya. Aku sadar, untuk mendapatkan orang yang baik harus berangkat dari jiwa yang baik. Sementara aku?Tapi semesta tidak begitu menyebalkan kali ini. Notifikasi instagramku membuat aku tersenyum girang. Bahkan sedikit melonjat. Rupanya dia mengingatku.Pesan demi pesan saling menukar diantara kita. Berawal dari kata yang ditulis dengan dua ibu jari, beralih menjadi kata yang diucap dengan dua bibir. Aku pikir ini mengasyikan untuk dilanjut dengan pertemuan dua bola mata yang tengah berbinar. Dua bola mataku saja yang berbinar, dia belum tentu. Tapi lagi-lagi cukup segan hati untuk mengajaknya. Keduakalinya aku tak berkutik dibuatnya.Namun kembali, semesta tidak terlalu menyebalkan. Malam itu justru dia yang mengajaku bertemu. Sekedar menyantap bubur ayam di esok hari ajaknya. Tanpa ragu jelas aku iyakan, bahkan sampai aku tidak tidur semalaman. Membayangkan apa yang akan kami bicarakan. Ketika pagi mulai menyapa, aku tersadar bahwa bayanganku terlalu jauh. Pokoknya terlalu jauh. Karena yang harus aku lakukan cukup menemuinya dengan keyakinan yang masih sama. Sesuai premis awal, nampaknya aku tidak terlalu baik untuk bisa bersamanya.Pertemuan kedua tapi terasa yang pertama berjalan begitu cepat. Secepat aku mengenalkan dan mendeskripsikan diri kepadanya. Pikirku, tidak ada salahnya dia tau siapa aku sebenarnya. Karena akupun ingin tau dia dengan sepenuhnya. Bukan sekedar luar yang akhirnya hanya mengantarkan pada rutinitas tengkar.Pertemuan selanjutnya sudah tidak sekaku sebelumnya. Kami sudah berboncengan. Tapi tidak berpegangan, kecuali aku sengaja mengerem tidak dengan perlahan. Hahaha, begitulah kelakuanku. Jangan heran. Setelah menyelesaikan beberapa urusan, kami menuju satu kedai kesukaannya. Kecil dan sumpek, tapi hidangannya segar dan menggembirakan. Setelah memesan minuman kesukaannya, matcha, dia meminjamkku buku dan earphone. Katanya buku bagus, dan memang bagus setelah aku selesai membaca dan mendengar alunan pengiringnya. Yang selanjutnya mengantarkan kami berdiskusi tentang bagaimana membuat hidup menjadi sempurna.Kamipun akrab dengan pertemuan, akrab dengan candaan, akrab dengan kebersamaan, dan hingga akhirnya akrab dengan perselisihan. Titik temu nampaknya urung diciptakan. Aku ingin segera menggenggam tangannya, tapi dia berdalih belum siap menggenggam juga. Tetapi juga enggan melepas. Rumit. Dan berbeda dengan waktu sebelumnya, kali ini semesta terasa menyebalkan. Yang mengantarkan kami pada kesepakatan untuk tidak saling melanjutkan.Malam itu menjadi terakhir kali aku menatap dengan penuh harap, menjadi terakhir kali dia memandangku dengan menahan rasa sayang. Meskipun hati terasa berat, tetapi diantara kami memilih untuk tidak saling mearjut cerita yang sebenarnya dari awal hanyalah sebuah harapan.
Dari dua sudut tempat yang berbeda kami memikirkan satu hal yang sama. Inikah yang kami mau. Inikah yang seharusnya terjadi. Namun diantara kami berdua tidak mengerti harus memulai dengan cara apa.x
x

Komentar

Posting Komentar

Semboyan Kami

Semboyan Kami

Postingan Populer