Dia, Yang Kuperjuangkan
Sebenarnya aku sudah muak dengan hubungan di masa muda. Aku hanya ingin bermain hingga terlarut pada kenyamanan. Dan akhirnya kenyamanan itu yang membuat keputusan perpisahan. Begitu terus berulang.
Terbukti aku tidak pernah menjalin hubungan serius selepas SMA. Bebrapa wanita datang dan pergi. Aku cukup menikmati.
Akhirnya angin berubah arah. Entah siapa yg mengubahnya. Didalam kejenuhan aku menatap seorang perempuan visioner. Seorang perempuan yang tidak suka untuk sekedar diam. Ya, awalnya aku hanya ingin mengetahui namanya. Dengan segala tindak absurd saya dapatkan namanya. Waktu itu di sekre suatu organisasi kampus dengan keadaan tergesa kami berkenalan. Namun sayangnya aku lupa siapa dia.
Namun alam tau sebenarnya aku butuh informasi tentang dia, hingga akhirnya tiba kembali sesi berkenalan. Iya, aku tau dia siapa sekarang.
Berlalu begitu cepat hingga akhirnya aku memberikan perhatian lebih kepadanya. Siapa dia? Untuk apa dia ada di hadapanku waktu itu? Hanya sekedar menanak nasi? Sepertinya tidak sesederhana itu.
Aku memberanikan diri untuk mendekat dan terus mendekat. Mencoba mengetahui apa yang dia resahkan. Dia gadis cerdas. Terlampau cerdas. Aku harus memulainya dari mana? Bisakah aku mendapatkannya dengan cara yg cerdas?
Tidak tau, aku hanya menuruti jemari kalaku mengajak dia pergi. Menonton film yg sebenarnya aku tidak ingin menonton. Hanya saja aku butuh sedikit lbh dekat dengannya.
Aku menemukan sebuah harapan di tatapan matanya. Aku menemukan warna baru di setiap kata yg dia sampaikan. Entah mengapa, kini aku tidak lagi jenuh untuk memulai suatu hubungan.
Ternyata benar, dia hadir tdk hanya untuk menanak nasi. Tapi dia hadir untukku perjuangkan.
Kembali jemari mengantarkanku mengenali dia lebih dekat. Jariku terlalu berani hingga membawaku mengajak dia untuk pergi berdua kembali. Tapi aku menikmati. Nampaknya memang dia yang harus kuperjuangkan.
Jemariku mengantarkanku kepada kebahagiaan.
Waktu berjalan singkat hingga akhirnya aku tidak bisa lagi menolak untuk mendapatkan dia. Apalagi saat tanganku benar2 ia genggam. Saat mataku benar2 beradu dengan matanya. Aku menyukainya. Tidak. Lebih dari itu. Aku menyayanginga. Iya, aku mencintainya.
Dan kini jalan semakin dekat, dia sudah semakin mendekat. Aku hanya perlu memberikan yang terbaik. Tidak lebih. Karena akupun tak punya apa2 selain kasih dan cinta. Ditengah perbedaan aku tidak mencari kesamaan. Aku mencari dia untuk melengkapi kebahagiaan.
Aku menyayangi dia. Dengan tanpa sedikitpun keraguan. Aku mencintai dia. Dengan tanpa sedikitpun rasa takut. Karena aku percaya, dialah kebahagiaanku. Dialah mimpi dan jawan terbaik untuk kehidupanku.
Salam hangat dari desa yang sunyi,
Aditya Krissandi
Terbukti aku tidak pernah menjalin hubungan serius selepas SMA. Bebrapa wanita datang dan pergi. Aku cukup menikmati.
Akhirnya angin berubah arah. Entah siapa yg mengubahnya. Didalam kejenuhan aku menatap seorang perempuan visioner. Seorang perempuan yang tidak suka untuk sekedar diam. Ya, awalnya aku hanya ingin mengetahui namanya. Dengan segala tindak absurd saya dapatkan namanya. Waktu itu di sekre suatu organisasi kampus dengan keadaan tergesa kami berkenalan. Namun sayangnya aku lupa siapa dia.
Namun alam tau sebenarnya aku butuh informasi tentang dia, hingga akhirnya tiba kembali sesi berkenalan. Iya, aku tau dia siapa sekarang.
Berlalu begitu cepat hingga akhirnya aku memberikan perhatian lebih kepadanya. Siapa dia? Untuk apa dia ada di hadapanku waktu itu? Hanya sekedar menanak nasi? Sepertinya tidak sesederhana itu.
Aku memberanikan diri untuk mendekat dan terus mendekat. Mencoba mengetahui apa yang dia resahkan. Dia gadis cerdas. Terlampau cerdas. Aku harus memulainya dari mana? Bisakah aku mendapatkannya dengan cara yg cerdas?
Tidak tau, aku hanya menuruti jemari kalaku mengajak dia pergi. Menonton film yg sebenarnya aku tidak ingin menonton. Hanya saja aku butuh sedikit lbh dekat dengannya.
Aku menemukan sebuah harapan di tatapan matanya. Aku menemukan warna baru di setiap kata yg dia sampaikan. Entah mengapa, kini aku tidak lagi jenuh untuk memulai suatu hubungan.
Ternyata benar, dia hadir tdk hanya untuk menanak nasi. Tapi dia hadir untukku perjuangkan.
Kembali jemari mengantarkanku mengenali dia lebih dekat. Jariku terlalu berani hingga membawaku mengajak dia untuk pergi berdua kembali. Tapi aku menikmati. Nampaknya memang dia yang harus kuperjuangkan.
Jemariku mengantarkanku kepada kebahagiaan.
Waktu berjalan singkat hingga akhirnya aku tidak bisa lagi menolak untuk mendapatkan dia. Apalagi saat tanganku benar2 ia genggam. Saat mataku benar2 beradu dengan matanya. Aku menyukainya. Tidak. Lebih dari itu. Aku menyayanginga. Iya, aku mencintainya.
Dan kini jalan semakin dekat, dia sudah semakin mendekat. Aku hanya perlu memberikan yang terbaik. Tidak lebih. Karena akupun tak punya apa2 selain kasih dan cinta. Ditengah perbedaan aku tidak mencari kesamaan. Aku mencari dia untuk melengkapi kebahagiaan.
Aku menyayangi dia. Dengan tanpa sedikitpun keraguan. Aku mencintai dia. Dengan tanpa sedikitpun rasa takut. Karena aku percaya, dialah kebahagiaanku. Dialah mimpi dan jawan terbaik untuk kehidupanku.
Salam hangat dari desa yang sunyi,
Aditya Krissandi
Tulisan yang bagus kak
BalasHapus