DPR, Wakil Rakyat Yang (Belum) Tahu Rakyat
Elit politik yang dianggap berjasa bagi negara kerap
dipanggil sebagai seorang negarawan.
Sebuah julukan yang terkesan sangat
eksklusif. Lantas petani yang menanam padi untuk perut anak semua bangsa tidak pantas
disebut negarawan? Bukankah mereka juga berpikir dan bertindak untuk negara? Sebuah
pertanyaan sederhana yang muncul dalam benak saya sebagai seorang mahasiswa.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif memiliki
peranan yang besar dalam penyelenggaraan negara. Banyak sekali tugas dan fungsi
yang dijalankan, termasuk fungsi pengawasan, aspirasi dan legislasi. Tidak
untuk meniadakan peranannya, namun apakah secara kelembagaan DPR sudah
memberikan dampak yang positif bagi rakyat?
Mendefinisikan kata rakyat memang cukup mudah. Melirik
KBBI, rakyat berarti penduduk suatu negara. Namun rakyat dalam konteks
pemerintahan kadang masih cukup sulit untuk didefinisikan, masih ada dilema
didalamnya. Rakyat mana yang harus diperjuangkan. Perhatikan saja ketika para
anggota DPR berteriak mengatas namakan rakyat. Menganggap dirinya adalah
representasi dari rakyat. Sudahkah menunjukan itikad pengartian rakyat yang sesungguhnya?
Rakyat adalah saya, anda, dan kita semua, terlepas dari jabatan dan posisi
strategis yang melekat, kita semua adalah rakyat. Sudahkah kita merasa
terwakili oleh para legislator? Sudahkah petani dan nelayan yang terperas
keringatnya untuk mencari nafkah terwakilkan oleh para legislator?
Anggota DPR terlihat sangat sibuk. Pagi hingga sore rapat
di ruang sidang, malamnya harus menepati janji siaran TV swasta untuk beradu
argumen dengan lawan bicaranya. Gagasan indah disampaikan untuk menegasikan
gagasan lain yang bersebrangan. Terlihat sangat filosofis dan rasional, namun
sudahkah yang mereka ucapkan dilakukan? Ada hak rakyat yang belum dituntaskan. Terlintas
dalam benak sebagian orang, para legislator terlalu terkotak-kotakan dengan
identitas. Memang benar mereka adalah para utusan partai politik, tetapi apakah
mereka lupa bahwa partai politik harus sejajar dengan kehendak rakyat? Atau
lagi-lagi mereka belum bisa mengartikan kata rakyat?
Publik sudah tidak asing dengan kata koalisi, pun juga
fraksi. Publik mempercayainya bahwa kedua hal tersebut ada untuk kepentingan
rakyat. Namun benarkah demikian? Wajah koalisi dan fraksi di DPR hanya terkesan
sebagai kubu yang saling berperang. Para legislator sibuk mengelompokan dirinya
dengan kelompok yang mereka anggap satu ideologi. Berbagai topik mereka
bicarakan dengan penuh keseriusan. Namun, kesejahteraan rakyat belum juga hadir
hingga sekarang. Lalu koalisi dan fraksi ini apa? Ajang mencari kawan dan lawan?
Rakyat jelas tidak butuh peperangan, rakyat sudah lelah dengan masa kolonial.
Masihkan relevan kotak identitas yang para legislator ciptakan?
Suasana negara terkesan sangat dinamis, namun tidak
dengan kesejahteraan yang makin terasa statis. Gejolak hanya terasa dalam
bidang politik. Pembahasan mengenai cawapres, sengketa pemilu hingga revisi UU
MD3 menjadi topik hangat setiap petang. Sementara regulasi yang menunjang swasembada
pangan ataupun praktik pencurian ikan nampaknya hanya ada di angan-angan.
Apakah para dewan hanya bersemangat ketika membahas
kepentingan politiknya? Apakah para dewan hanya ingin mementingkan hak pribadi
dan kelompoknya? Jika tidak demikian, tunjukanlah pada rakyat. Rakyat
menginginkan kesejahteraan, bukan perseturuan. Apalagi debat kusir di talk show TV juga time
line media sosial. Atau para anggota dewan masih belum juga cakap mengartikan
kata rakyat?
Apalagi jika berbicara tentang korupsi. Sudah lelah,
jangan buat rakyat semakin anti pati.
Komentar
Posting Komentar