Isi EDOM, Penting?
Bagi mahasiswa UGM, mengisi Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa (EDOM) menjadi rutinitas yang wajib dilakukan setelah ujian akhir semester berlalu. Ruang ini diberikan oleh kampus kurang lebih untuk memberikan keseimbangan dalam dunia pendidikan dimana tidak hanya mahasiswa yang berhak mendapatkan penilaian, tetapi juga dosen yang berhak mendapatkan penilaian kinerja atas apa yang sudah dilakukan selama proses perkuliahan. Adanya penilaian ini tentu dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di UGM.
Proses pengisian EDOM dilakukan secara online melalui akun palawa setiap mahasiswa. Secara rinci mahasiswa dapat memberikan penilaian kepada dosen dengan menjawab pertanyaan dengan sekala yang ditampilkan dalam halaman penilaian. Jika ada satu pertanyaan yang belum dijawab maka sistem harus diulang dalam proses pengisiannya. Hal ini untuk memastikan semua evaluasi sudah diisi oleh mahasiswa.
Karena begitu banyaknya pertanyaan yang harus dijawab membuat proses pengisian EDOM berlangsung cukup membosankan. Oleh karena itu beberapa mahasiswa mengisi EDOM dengan sesuka hati tanpa mempertimbangkan jawaban yang mereka pilih. Serempak bisa mereka jawab "sangat puas" terhadap proses kuliah meski kenyataannya tidak demikian. Pun sebaliknya, serempak bisa mereka jawab "tidak puas" padahal proses kuliah berlangsung sangat mengasyikan. Ataupun dapat juga diisi acak sesuka hati.
Adanya hal tersebut tentu merugikan proses evaluasi yang berlangsung. Hasil yang diperoleh menjadi tidak objektif karena tidak bersumber dari data yang valid. Hal tersebut dapat merugikan atau bahkan menguntungkan dosen yang mungkin sedang "bejo".
Lalu apakah EDOM ini penting?
Beberapa kali saya mengusi EDOM dengan penuh keyakinan tentang apa yang saya alami di kelas. Khususnya untuk mata kuliah yang menurut saya pihak dosen kurang memfasilitasi proses pembelajaran/perkuliahannya. Namun pada semester atau bahkan tahun berikutnya nampak tidak ada perubahan yang berarti oleh dosen atau mata kuliah yang sudah saya evaluasi. Cerita-cerita menggelikan mengenai dosen atau mata kuliah yang sudah saya evaluasi tetap saja terdengar begitu nyaring. Dan justru terjadi juga di kelas mata kuliah lain yang diampu oleh "dosen yang bersangkutan". Huhhh.
Akhirnya hal ini cukup membuat saya bingung. Sebenarnya seperti apa proses evaluasi dari hasil EDOM yang sudah diisi? Atau justru tidak menjadi prioritas penting dalam evaluasi pembelajaran dosen?
Saya belum mengerti.
Apakah jika hanya ada satu mahasiswa saja yang tidak nyaman selama proses kuliah dan sudah dikemukakan dalam EDOM maka hal tersebut tidak berguna karena kurang massa?
Mungkin ada teman-teman UGM yang paham mengenai bagaimana cara rekap EDOM yang dilakukan oleh kampus sehingga dapat memberikan evaluasi yang sempurna bagi dosen pengampu mata kuliah sehingga EDOM bisa diyakini sebagai sesuatu yang penting.
Salam.
Proses pengisian EDOM dilakukan secara online melalui akun palawa setiap mahasiswa. Secara rinci mahasiswa dapat memberikan penilaian kepada dosen dengan menjawab pertanyaan dengan sekala yang ditampilkan dalam halaman penilaian. Jika ada satu pertanyaan yang belum dijawab maka sistem harus diulang dalam proses pengisiannya. Hal ini untuk memastikan semua evaluasi sudah diisi oleh mahasiswa.
Karena begitu banyaknya pertanyaan yang harus dijawab membuat proses pengisian EDOM berlangsung cukup membosankan. Oleh karena itu beberapa mahasiswa mengisi EDOM dengan sesuka hati tanpa mempertimbangkan jawaban yang mereka pilih. Serempak bisa mereka jawab "sangat puas" terhadap proses kuliah meski kenyataannya tidak demikian. Pun sebaliknya, serempak bisa mereka jawab "tidak puas" padahal proses kuliah berlangsung sangat mengasyikan. Ataupun dapat juga diisi acak sesuka hati.
Adanya hal tersebut tentu merugikan proses evaluasi yang berlangsung. Hasil yang diperoleh menjadi tidak objektif karena tidak bersumber dari data yang valid. Hal tersebut dapat merugikan atau bahkan menguntungkan dosen yang mungkin sedang "bejo".
Lalu apakah EDOM ini penting?
Beberapa kali saya mengusi EDOM dengan penuh keyakinan tentang apa yang saya alami di kelas. Khususnya untuk mata kuliah yang menurut saya pihak dosen kurang memfasilitasi proses pembelajaran/perkuliahannya. Namun pada semester atau bahkan tahun berikutnya nampak tidak ada perubahan yang berarti oleh dosen atau mata kuliah yang sudah saya evaluasi. Cerita-cerita menggelikan mengenai dosen atau mata kuliah yang sudah saya evaluasi tetap saja terdengar begitu nyaring. Dan justru terjadi juga di kelas mata kuliah lain yang diampu oleh "dosen yang bersangkutan". Huhhh.
Akhirnya hal ini cukup membuat saya bingung. Sebenarnya seperti apa proses evaluasi dari hasil EDOM yang sudah diisi? Atau justru tidak menjadi prioritas penting dalam evaluasi pembelajaran dosen?
Saya belum mengerti.
Apakah jika hanya ada satu mahasiswa saja yang tidak nyaman selama proses kuliah dan sudah dikemukakan dalam EDOM maka hal tersebut tidak berguna karena kurang massa?
Mungkin ada teman-teman UGM yang paham mengenai bagaimana cara rekap EDOM yang dilakukan oleh kampus sehingga dapat memberikan evaluasi yang sempurna bagi dosen pengampu mata kuliah sehingga EDOM bisa diyakini sebagai sesuatu yang penting.
Salam.
Komentar
Posting Komentar