Orang Asing di Rumah Sendiri

Saya adalah anak desa yang beruntung karena mendapatkan kesempatan merantau untuk belajar di bangku kuliah. Tidak seperti banyak rekan saya yang hanya berkesempatan sekolah di bangku SMP ataupun SMA, saya berkesempatan memahami ilmu dari tingkat yang berbeda. Kondisi ini membuat saya seakan berada di orbit lain ketika pulang ke desa. Anggapan sebagai anak kota, kaum terpelajar, ataupun elit baru mulai tersematkan dalam diri saya. Entah dari mana asalnya, tetapi kaca mata itu yang selalu menyorot kepada saya.

Rasa tidak nyaman menjadi momok ketika pulang ke desa. Sedikit ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah sangat sulit untuk diaplikasikan. Ada saja yang menghambat, mulai dari susah bersosialisasi ataupun asumsi pribadi bahwa "saya" yang paling mengerti. Akhirnya ketika pulang ke desa yang terjadi adalah menjadi orang asing di rumah sendiri. Menjadi manusia yang menutup diri sambil sesekali mengkritik dan menghakimi kondisi desa yang tak sesuai konsep pribadi.

Banyak pertanyaan akhirnya muncul dalam benak. Seperti inikah yang diharapkan dari anak desa yang menuntut ilmu di perantauan? Hanya menjadi manusia yang akhirnya tidak mampu berkontribusi bagi tanah kelahiran? Yang akhirnya menghilang menjadi orang kota dan sesekali pulang ke desa? Iya. Kebanyakan pendahulu saya di desa yang bernasib mirip dengan saya memang berakhir dengan seperti itu.

Tidak salah ketika akhirnya anak desa yang belajar di perantauan berakhir menghilang dari desa. Karena memang niatnya berkuliah adalah untuk memperbaiki nasib. Nasib hidup di desa yang dianggap tidak memiliki masa depan. Lebih baik di kota yang nampaknya penuh dengan kesuksesan.

Lalu seperti apakah harusnya saya bertindak? Meneruskan pendahulu dengan mengejar kesuksesan di kota, atau mencoba kembali bersosialisasi di desa?

Pertanyaan tersebut akhirnya saya tutup dengan senyuman. Karena pada dasarnya saya belum bisa menentukan jawaban. Polemik anak desa yang menjadi asing karena asik di perantauan memang menjadi realita yang tidak bisa terelakan. Penyelesaiannya? Ini yang harus kita semua diskusikan.

Salam.

Komentar

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus

Posting Komentar

Semboyan Kami

Semboyan Kami

Postingan Populer